Merayakan Umar 1 Semester di SD Inklusi




 


Tahun ini terjadi 3 hal besar pada Keluarga Al Fatih (gitu kata Umar menamai nama keluarga kami. Hahhaha. Dia pengen punya nama keluarga jadi nama dia di kartu ujian akhir ditambahi Al Fatih. Alhamdulillaah guru-gurunya setuju saja. Memang super guru-guru di An Nahl. Alhamdulillaah).

Dua di antara 3 hal itu terjadi pada tanggal 31 Oktober 2022. Dede Salman lahir dan sesaat setelah dia dilahirkan via SC, saya pun disteril dengan pertimbangan kesehatan saya dan usia yang mungkin bila hamil lagi akan berusia di atas 35. Kata dokter dua hal ini bisa membuat kehamilan berikutnya lebih berisiko. Ya, orang-orang terdekat pada tahu lah cobaan-cobaan kesehatan yang kulalui sejak hamil Salman memang datang silih berganti. Setelah cek pendapat ulama lagi, memang kalau pertimbangannya kesehatan ibu, steril yang sebenarnya tidak diperbolehkan bisa jadi boleh. Alhamdulillaah anak saya tiga saja. Kecuali kalau one day tiba-tiba mau IVF. Tapi biasanya sih kami nggak punya duit. LOL.

Tapi, saya nggak banyak fokus ke kelahiran Salman maupun saya disteril. Fokus saya adalah ke hal besar pertama yang terjadi sejak bulan Juli 2022. Ya, Umar akhirnya sekolaaah! Alhamdulillaaah! Kalau lihat-lihat memori Facebook, kayaknya saya sering banget ya bilang Umar bakal masuk Homeschool Kak Seto saja karena semakin lama kok sekolah-sekolah yang kukunjungi nggak ada yang cocok dengan pola belajar Umar. Nggak ada yang bikin dia betah belajar full day, gitu. Namun, sekitar 3 minggu sebelum tahun ajaran baru, tiba-tiba sebuah ilham masuk ke benak Bundanya Umar... Jeng jeng jeng.

Bundanya Umar tiba-tiba scrolling-scrolling salah satu media sosial favoritnya, Instagram. Terus dia baru ingat tuh tahun lalu dia pernah follow sebuah SD atas saran Instagram Ad (namanya udah ngiklan, ya kita follow, kan? Alasan yang sungguh aneh, tapi itulah Bunda Umar). Anehnya, Bunda Umar baru sadar memperhatikan detail kegiatan-kegiatan kelas yang di-post di Instagram SD tersebut. Terus, Bundanya Umar sadar, deh. Loh loh loh? Kok? Kok? Anak-anaknya belajarnya nggak duduk rapi di kursi, tangan dilipat di meja? Loh kok mereka banyakan jalan-jalan? Banyakan eksperimen? Loh kok santuy banget? Kok cocok sekali dengan Umar yang ADHD. (Backsound jeng jeng jeng mulai lagi)

Makin Bunda scroll dong itu Instagram SD (namanya SDIT An Nahl Pamulang, by the way). Jadilah Bunda dan Umar trial di sana. Singkat cerita cocok, Umar suka. Administrasi mudah. Biaya terjangkau. Guru-gurunya bahkan bisa dinego mengenai idealisme-idealisme Bunda Umar yang Salafi wannabe ini wkwkwk. Umar pun bisa diarahkan untuk mempertahankan nilai-nilai yang ditanamkan di keluarga sambil tetap bergaul dengan teman-teman sekelas Ya, walaupun jadi banyak pertanyaan Umar kenapa di rumah ga diajarin bacaan yang di sekolah, kenapa teman-teman di sekolah gambar pake muka and so on and so forth tapi ku berhasil lah menjawab pertanyaan-pertanyaan rumit itu dengan memperlihatkan dalil-dalil pada Umar (ngajarin Umar berujung bahas kajian kitabnya Ustadz Khalid kadang-kadang). Wkwkwk.

Sekarang, Umar baru selesai ujian akhir. Sebentar lagi ambil rapor semester ganjil. Umar yang kusangka dulu akan bergantung pada Homeschool Komunitas, ternyata bisa gaul di full-day school selayaknya anak-anak normal. Malah dia senang banget di sekolah. Nggak mau pulang terlalu cepat. Jadi misalnya pulang 13.00, nih...Bu Irma dilarang datang terlalu cepat supaya dia bisa main dulu sama teman-temannya. Ya, hikmah dari sekolah baru dan murid sedikit adalah bonding persahabatannya kuat. Alhamdulillaah Umar mengalami masa SD yang Insyaa Allah lebih baik daripada aku dulu. Aku kan dispraksia tak terdeteksi tuh waktu SD. Boro-boro punya persahabatan bagai kepompong. Seringnya cekcok dgn teman dan dijauhi. Alhamdulillaah 'alaa kulli haal. Pengalaman masa SD-ku membuat aku mengambil keputusan-keputusan pendidikan untuk Umar (dan Zaid) dengan hati-hati.

By the way, saya cerita panjang lebar kayak gini maunya apa, sih? Maunya sih berbagi dengan teman-teman Facebook suka duka membesarkan tiga anak apalagi 2 anak sudah resmi terdiagnosis ADHD. Selain itu, saya mau berpesan pada para pendidik se-Indonesia raya bahwa niiih, bisa, loh anak ADHD bahagia sekolah, merdeka belajar (antek Pak Nadiem in disguise mode on) tanpa dia harus struggling mengejar2 ketinggalan, tanpa dia kehilangan kepercayaan diri seolah dia terbelakang dan tertinggal. Dengan cara apa? Dengan cara metode dan sistem pembelajaran yang diterapkan di sekolahnya harus benar-benar inklusi. Jangan katanya inklusi tapi tidak inklusi. Rasio guru murid harus ideal. Jangan 1 guru dikeroyok 30 anak. Belajar ga cuma duduk rapi memperhatikan saja. Anak-anak harus aktif seolah berkegiatan di rumah sendiri. Ayo dong, para pendidik di Indonesia raya, kita kan udah banyak belajar tentang pendidikan di Finlandia, di Denmark, di Jepang dan lain-lain. Saatnya kita terapkaaaan! Tujuh puluuuh! Jaya! Jaya! Ooeeooo jos jos jos (jalan kayak TLUP SMAN 70. Jokes-nya terlalu internal, Rim. Nggak ada yang ngerti).

Tapi mestinya dari saya bilang biasanya kami nggak ada duit (jadi boro-boro IVF), mestinya Anda-Anda sudah tahu bahwa ini adalah content writing bin copywriting, pemirsaaaa! Hahaha (tiba-tiba jadi hard selling). Memang saya ini ngakunya aja copywriter tapi nyusun tulisan nggak sabaran dan langsung tembak hard selling. Malah ngetag orang banyak banget. Nulis hashtag SEO banyak banget. Please lah guys, ayo beli buku Rudi Temanku. Rp65.000 (extremely hard selling). Wkwkkw.

Ayo, guys yang belum ngerti tentang suka duka anak-anak berkebutuhan khusus, atau yang mau mengajarkan anak-anaknya agar bisa berempati pada anak-anak berkebutuhan khusus, beli buku Rudi Temanku, ya. Bisa PM Rima di Facebook atau WA ke 082111292540. Bisa juga beli di Tokopedia Inshan Books Official Store atau tanya2 langsung gih ke penerbit @inshanmedia di Instagram. Harganya Rp65.000 belum ongkir, guys. Mumpung sebentar lagi liburan kaaan? Butuh nambah buku baru untuk ngisi kegiatan anak, kaan? Yuuuk beli buku yang insyaa Allah bermanfaat ini.



Oh yaaa. Bisa beli juga di ilustratornya yang membuat buku Rudi Temanku ini semakin hidup dan pesannya semakin 'nyampe' gitu. Bisa pesan ke FB Marifa Ummu Ibrohim yaaa.

#pendidikaninklusi #anakberkebutuhankhusus #anakhebat #abk #inklusi #anakusiadini #anakspesial #terapianak #klinikyamet #autisma #sekolahkhusus #terapiwicara #sensoriintegrasi #okupasiterapi #anakautis #si #autis #autistic #autisminfo #autismspeak #autisme #ot #asd #pendidikan #tlatahbocah #kagamacare #anakmerdeka #spd #sensori #sensoryprocessingdisorder


Komentar